waisak-borobudur
Portabilitas dan kekuatan kamera saat ini membuatnya mudah untuk mengambil gambar di mana saja, kapan saja. Masalahnya adalah orang-orang tertentu dan tempat tertentu memiliki aturan tentang apa yang kita bisa dan tidak bisa kita ambil fotonya.
Kebanyakan wisatawan sering kali melakukan pelanggaran dengan mengambil foto tanpa mengkomunikasikan maksudnya, seperti minta ijin dulu kepada yang bersangkutan. Atau tidak memahami budaya setempat.

“Tidak semua objek bisa difoto, tidak semua objek yang bagus difoto boleh difoto” Pernyataan ini biasa dikenal jika kita belajar fotografi. Tak peduli apakah kita seorang profesional atau hanya seorang pengabadi momen amatiran atau… yang sekedar narsis aja, harus jeli melihat tempat dimana kaki ini memijak dan moncong lensa mengarah.
Karena satu “klik” suara rana yang terbuka harus dapat dipertanggung jawabkan.

Dimana bumi dipijak, disitulah langit dijunjung. Sopan-santun apapun bentuknya bertujuan mengatur tatanan sosial dalam masyarakat tertentu untuk menjaga keseimbangan di lingkungan tersebut.
Wajib hukumnya bagi para “pejalan” yang budiman untuk memahami sosial budaya lokal dan menghormatinya.

Terutama di wilayah Asia, dimana ada banyak kepercayaan dan simbol-simbol ketuhanan sangat kental. Kuil, gereja, masjid, sinagog, patung, pura, simbol agama tertentu, atau orang tertentu dilarang diambil gambarnya.

Dalam perkembangan pariwisata, akan ada banyak perubahan dalam aturan ini. Biasanya karena untuk melindungi situs warisan tertentu (misal di Lembah Mesir Para Raja) wisatawan dilarang mengambil gambar.
Tak terkecuali jika kita memasuki negara yang sangat tertutup dengan negara luar, sehingga tingkat kecurigaannya sangat tinggi, kamera menjadi sangat haram.

Rajin-rajin kita mencari informasi tentang hal ini, karena akan sangat memalukan jika kita melakukan kecerobohan karena mengabaikan norma. Dan sangat tidak lucu jika kita harus digelandang di kantor kepolisian karena hal ini.

Masih segar sekali peristiwa Waisak yang diwarnai kericuhan karena wisatawan yang ingin mengambil gambar menjadi trending topik di media. Berkaca dari peristiwa ini, mungkinkah kita juga melakukannya.
Uang dan umur memang mampu mengantarkan kita kemana saja, tapi rendahnya etika tidak mengantarkan kita kemana-mana.

Categories: CATATANTRAVELING

akadusyifa

Terima kasih sudah membaca tulisan ini semoga bermanfaat,

0 thoughts on “Etika Memotret Saat Liburan”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts

CATATAN

Dollar Yang Terus Menguat

Dalam perdagangan mata uang dollar Amerika Serikat, sangat diperlukaan oleh para pelaku bisnis dan juga para pelaku usaha ekspor-impor barang, produksi mesin atau kendaraan, jual-beli saham, emas serta lainnya yang menggunakan mata uang dollar namun Read more...

CATATAN

Kehidupan Mahasiswa

Memasuki dunia perguruan tinggi, acap kali para siswa yang baru lulus masih bingung menentukan mau kuliah dimana, jurusannya apa dan semua tetek bengek yang mereka masih belum tau. Kuliah adalah jembatan para generasi muda untuk Read more...

CATATAN

Kuliah Perdana

Kuliah perdana bagi seorang mahasiswa baru boleh dikatakan sebuah babak baru dalam kehidupan akademiknya. Perkuliahan itu juga dapat diartikan sebagai hal yang esensi dalam mengikuti perkuliahan selanjutnya. Tak jarang momen ini sangat dinantikan, tetapi tak Read more...

Back To Top